Wak Kampret


Malam yang dingin dan hujan yang masih betah mencurahkan air. Sesekali tirisan air hujan yang jatuh ke rambutku yang gimbal, menerpa mata. Cepat-cepat kuusap dengan ujung lenganku. Wajahku masih penuh daki yang tebal karena jarang tersentuh air. Lain lagi celanaku yang robek memanjang di bagian bawah, menampilkan ketelanjangan dari atas bokong menuju area paha. 

Orang-orang memandang sinis dan menutup hidung. Aroma yang tidak mengenakkan membuat seorang ibu hamil memuntahkan cairan yang tepat muncrat di depanku. Suaminya dengan mata melotot dan marah dengan mata mendelik. Rahangnya mengeras. Tangan kanannya mengacung ke udara seperti ingin menamparku. Secepatnya sang ibu hamil itu menahan lengan suaminya. 

"Dasar bajingan tengik… !!!! "

"Mas… mas… jangan, dia… (sambil mengangkat tangan di dahi dan telunjuk menyilang miring dari dahi ke area bawah mata.)"

Amarah suaminya mereda. Orang-orang yang berteduh di pelataran toko memandang adegan itu dengan berbagai reaksi. Ada yang geleng-geleng kepala. Ada pula yang tegang ketika tangan itu hampir mendarat di wajahku. Sedangkan aku hanya cengengesan. Jujur, aku nggak ngerti mengapa mereka memarahiku. Aku berlalu sambil mengapit kantong goni plastik di sebelah tanganku. Dan disebelah lagi, pengait berbentuk pipa pipih ukuran sedepa yang ujungnya berfungsi mengkait barang yang kuanggap berharga walau di mata mereka yang memandangku jijik, itu hanyalah sampah. 

"Gelegarrrrr… .. darrrr… . "

"Akhhhh… "

Orang-orang kaget mendengar gelegar petir berbentuk lambang PLN dengan kilatan berwarna perak keputih-putihan di atas awan yang kelam. Aku tak peduli. Aku menunduk mencari-cari sesuatu. Sepotong roti yang setengahnya dimakan dan berada di keranjang sampah itu menerbitkan seleraku. Tak berapa lama, potongan roti yang sudah bercampur dengan berbagai kotoran yang melekat, telah pindah ke mulutku. 

Orang-orang bergidik. Seakan-akan aku sedang memakan kecoa atau tikus. Ibu hamil itu kembali menunduk dan memuntahkan sesuatu. Aku berlari kecil menerobos hujan yang masih lebat menyambut tubuhku yang mulai ringkih di usia senja. 

"Kasihan ya, Ma… "

Seorang gadis kecil berusia 5 tahun yang menyaksikan kepergianku berujar pada mamanya yang masih nangkring diatas motor. Mamanya membelai rambut sang anak dan mengelusnya dengan kasih sayang. 

"Iya, Vi. Kasihan banget kakek itu, tak boleh di caci ya, nak. Roda kehidupan berputar, maka syukurilah apa yang ada."

"Iya, ma. Vi bersyukur punya papa dan mama yang menyayangi Vi."

Aku kedinginan. Seluruh tubuhku kuyup diterpa hujan. Aku bersimpuh duduk dengan menekuk kedua kaki membentuk bukit. Sengaja aku memilih agak ke sudut toko di pelataran yang juga banyak orang berteduh sambil berusaha menghindar dari bau dan dekilnya tubuhku. Ku silangkan lengan kedua tangan bersidekap dengan posisi kedua jemari menyentuh bahuku secara bersilang. 

Kantong kresek yang berisi berbagai sampah, dibiarkan tergeletak di samping kiriku. Lamunanku seketika melayang jauh. Pikiranku melanglang buana seakan kembali ke masa silam, saat kehidupan bahagia merenggut paksa dari kewarasan pikiran yang pernah ada di otakku. 


2 Tahun Lalu


" Inah… . Inah… kamu dimana nak?." 

Lelaki setengah tua yang masih kelihatan kekar berusia 55 tahunan yang baru saja sampai dari mengendarai becak motor memanggil anak kesayangannya, Suhainah atau biasa dipanggil Inah. Gadis cantik dengan tinggi semampai berlari kecil menyambut kedatangan ayahnya Surianto yang biasa dipanggil Wak Kampret. Konon gelar ini melekat karena Suriono selalu berujar, "kampret, " Jika kesal sama seseorang. Nama ini lebih dikenal dari nama aslinya. Istrinya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Wak kampret seorang lelaki pekerja keras. Walau kehidupan pas-pasan, tidak membuat dia patah arang dalam mengarungi kehidupan keras ini. 

Bulir keringat masih mengucur deras membasahi baju kaos yang dipakainya. Inah menyambut bungkusan kresek yang berisi belanja sayur lodeh dan beberapa ekor ikan basah untuk dijadikan makanan siang ini. Mesin betor dimatikan dan dia turun dari motor. Ada beberapa bungkus plastik kresek yang dibawanya ke dalam seraya memanggil anak kesayangannya. Seorang gadis manis keluar dari rumah dengan wajah bahagia menyambut kepulangan Oak Surianto. Seulas senyum manis terpatri pada wajahnya yang mulai menampilkan kerutan dan kantung di sekitar matanya. 

"Wah… ayah pulang. Gimana yah, hasil ini hari? . " 

"Alhamdulillah, Inah. Ayah mendapat rezeki lebih dari biasa. Ini ayah juga belanja baju untuk anak ayah yang cantik. " 

Inah sumringah menyambut pemberian ayahnya. Wajah cantik yang oval bertambah manis dengan tarikan lesung pipit yang menghimpit bibirnya yang mungil. Diambilnya plastik kresek dari tangan Pak Surianto sambil tersenyum manis. Kulitnya yang putih gak pualam yang memancarkan sinar kemegahan. Bagaikan potongan porselen dari sang maestro pemahat patung yang terkenal. Tingginya sekitar 160 sentimeter dengan mata bulat serta hidung bangir yang menawan. Alis mata bagai semut beriring menatap wajah Pak Surianto. 

"Terima kasih, Ayah. Inah tak pernah lupa jasa ayah membesarkan Inah. " Inah menghambur ke pelukan ayahnya. 

Tampak butiran air mata kebahagian dibalik punggung ayahnya. Lelaki setengah tua itu menyambut pelukan anaknya dan membelai rambut dibalik jilbab ungu yang dipakai Inah. Betapa dia sangat mencintai dan menyayangi anaknya semata wayang. Cuma Inah lah yang selalu membuatnya semangat dan melangkah pasti dalam kehidupan. 

"Dah, masak tuh, ayah lapar. Oh, ya… buatkan ayah kopi dulu ya sayang." 

Inah pun bergegas kembali ke dapur dan menyelesaikan tugasnya. Surianto duduk di sofa dan membuka baju kaos yang dipakainya. Betapa dia bersyukur punya anak yang cantik dan berbakti pada orang tua. Memang dia hanya punya seorang anak karena setelah melahirkan Inah, Sulastri, istrinya tak bisa melahirkan karena telah diangkat rahimnya. Di rumah petak sederhana ukuran 5 x 8 dan berdinding tepas. Ada 2 kamar yang tersedia berdinding kayu. Di area belakang tepatnya di dapur, tampak Inah dengan sigap membawa secangkir kopi dan goreng pisang untuk ayahnya tercinta. 

Inah kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Gadis cantik berusia 23 tahun itu dengan cekatan memasak sayur lodeh dan sambal terasi. Kemudian ikan kembung kuring digoreng. Setengah jam kemudian, hidangan makan siang telah tersaji di meja makan. Pak Surianto sudah mulai terbang ke alam mimpi karena dibelai angin sepoi-sepoi yang lewat melalui jendela. 

"Yah… yah… bangun yah, Inah sudah masak. Ayo yah kita makan bersama." Wak Kampret membuka matanya dan mengucek-ngucek. 

Kemudian bergegas ke kamar mandi membasuh muka dan tangannya. Beberapa menit kemudian, mereka berdua menyantap hidangan bersama. Di sela-sela menyantap hidangan, Wak Kampret memandang anak semata wayang yang sudah layak menikah. Inah yang merasa diperhatikan sang ayah menoleh memandang ayahnya yang masih menatapnya. 

"Ada apa, Yah. Apa ada yang salah pada Inah ? ." 

Wak Kampret gelagapan, sesaat pikirannya melayang membayangkan wajah almarhumah istrinya yang mirip dengan Inah. Perjuangan yang berat saat melahirkan Inah yang lahir prematur setelah Sulastri memaksakan bekerja cuci gosok di rumah tetangga. Sementara Sulastri sudah hamil 7 bulan. Saat itu, Pak Surianto sedang dapat masalah dari tempat kerjaannya. Surianto dipecat tanpa pesangon yang membuat tabungan mereka belum mencukupi untuk biaya persalinan. Hingga akhirnya, akibat terlalu memaksakan mencuci pakaian dan bekerja keras, terjadi pendarahan dan terpaksa majikan Sulastri membawa Sulastri ke tempat klinik terdekat. 

"Oh… nggak papa, Na. Ayah hanya teringat pada Ibumu. Kamu mirip dengan wajah Ibu."

Inah menghentikan kunyahan makanan yang telah masuk ke mulutnya. Sesaat matanya mendung mengenang Ibunya yang telah meninggal. Masih terbayang di pelupuk matanya. Sulastri, ibunya terkulai lemas di pangkuannya saat ajal menjemput. Tersungging senyum seakan bergembira dari penderitaan sesak nafas yang menggerogoti sisa hidupnya. 

"Inah juga rindu Ibu. Semoga Ibu bahagia di alam barunya."

Wak Kampret menyeka bulir air mata yang menetes di ujung sudut netranya. Gemuruh dadanya menandakan sesuatu yang tertahan yang lama membuncah. Tak tahan menahan gelora duka lara, lelaki tua itu kemudian menghembus nafas menghempaskan segala beban yang tersimpan. 

"Ayah pengen ngomong sesuatu padamu, Nak." 

Inah mendongakkan wajahnya menatap Surianto. 

"Ada apa sih, Yah, kok serius kali?". 

Surianto menarik napas panjang. Dia sudah selesai makan dan mulai menyalakan sebatang rokok. Dihisapnya dalam-dalam dan menghembuskan ke udara. Ada jeda beberapa menit sambil berpikir apa yang akan disampaikan pada Inah. Sesuatu yang merisaukannya sebagai orang tua. 

"Ayah sudah tua. Hanya Inah lah anak ayah satu-satunya. Ayah ingin menjodohkan Inah dengan anak teman ayah. Atau Inah sudah ada calon suami yang menyukai Inah? ". 

Inah dengan raut wajah tegang dan terkejut dengan ucapan ayahnya. Dia tak menyangka ayahnya menanyakan sesuatu yang tak terduga. Pikirannya berkecamuk. Mas Yanto, tetangga sebelah gang yang telah lama jatuh hati padanya selalu mengungkapkan perasaannya pada Inah. Tapi Inah tak tertarik walau Yanto tampan dan anak orang kaya. Semua wanita di gang sebelah dan di gg. Purnama, berharap jadi pacar Mas Yanto. 

"Inah masih ingin bersama ayah dan membalas jasa ayah. Jika Inah nikah, ayah nanti tinggal sendiri dan tak ada menemani. Biarlah Inah berbakti dan membantu ayah dengan pekerjaan yang selama ini Inah geluti."

Surianto menatap wajah anaknya lekat-lekat dan membelai rambut anaknya yang berada di hadapan. Wajah itu selalu mengingatkan seorang gadis yang telah menemaninya lebih dari dua puluh tahun lalu. Untuk mengarungi kehidupan yang keras dan penuh cobaan. Bahkan sampai ajal memisahkan mereka berdua. 

"Inah belum punya calon dan belum punya keinginan mau menikah. Tapi kalau ayah punya calon untuk dikenalin sama Inah, Inah tak menolak." 

Inah pun kembali menunduk menjawab pertanyaan ayahnya. Surianto menarik napas kembali memikirkan jawaban Inah. Dia memang punya calon. Pemuda yang sopan dan baik hati. Anak Sardi, temannya sekampung dulu. Pertemuan di terminal bus, menemukan mereka pada nostalgia masa sekolah dahulu. 


Ancaman


"Ayah ingin menjodohkanmu dengan anak teman ayah yang kemarin ayah jumpa di terminal. Ayah merasa cocok kalau dijodohkan padamu."

Inah memandang ayahnya dengan serius tanpa melepaskan tatapan memandang gerakan bibir ayahnya yang kelihatan bahagia ketika mengenalkan anak temannya. Entah apa yang akan dikatakan pada ayahnya karena dia juga tak tahu bagaimana sikapnya mendengar kabar dari ayahnya. Pak Surianto terus mengoceh tentang kepribadian anak temannya itu. 

"Dia memang tidak tampan, nak. Tapi dia punya kesopanan dan baik tutur katanya. Apalagi sudah punya usaha kecil yang kelak bisa menopang hidup kalian berdua."

Inah menyilangkan tangannya berpangku menahan dagu sambil masih memandang ketakjuban ayahnya menceritakan calon menantu yang menarik hatinya. Sungguh Inah tak ingin kebahagian ayahnya terganggu dengan bantahan apalagi sanggahan yang tak perlu, sebagai anak berbakti, Inah melemparkan senyum demi menyenangkan hati Wak Kampret, ayahnya. 

"Bagaimana?"

"Bagaimana apanya, Yah?"

"Loh, ini anak ditanya bagaimana tanggapannya, malah bengong?"

"Oh… mengenai pilihan ayah?"

"Iya, bagaimana??... Kamu setuju, nak?"

"Terserah ayah saja. Apa yang terbaik bagi ayah, sudah tentu terbaik bagi Inah."

Semburat kebahagiaan terlihat jelas di wajah lelaki setengah abad itu mendengar jawaban anaknya. Dia merasa bahwa tugasnya sebagai seorang ayah akan mulai berakhir. Misinya mencarikan jodoh teman hidup Inah akan segera terwujud. Apalagi Susanto, calon menantunya itu tidak keberatan ketika kedua orang tua yang bersahabat di masa lalu itu menentukan jodoh untuknya. 

Entah dari mana kabar bahagia ini mulai tersebar dari mulut ke mulut. Yanto, lelaki kaya yang urakan dan jatuh cinta pada Inah tak terima jika ini merupakan kabar sebenarnya. Begitu ingin dia bertemu dan bertanya langsung pada Inah. Tapi kesempatan itu baru terwujud beberapa hari kemudian. 

"Inah… . Inah… "

Inah yang baru saja pulang kerja dari sebuah perusahaan industri sapu ijuk rumahan menoleh kebelakang ketika namanya dipanggil. Seketika wajahnya menampilkan ketidaksukaan. Yanto memang tampan dan anak juragan sapi di gang sebelah. Tetapi kenakalannya sebagai pemuda sangat membuat orang tak suka dengan sikapnya yang kasar dan arogan. Apalagi suka berbuat keonaran di kampung itu. 

"Inah… tunggu… "

Inah terpaksa menghentikan langkahnya. Yanto menyusul Inah dari belakang dengan langkahnya yang panjang. Napasnya ngos-ngosan karena mengejar Inah. Inah terpaku diam, menanti apa yang akan dikatakan Yanto. Yanto sekarang berhadapan dengan Inah. Inah hanya menunduk, karena sesaat tampak ekspresi kemarahan di wajah Yanto. 

"Mas mau nanya, apa benar kabar yang mas dengar kamu akan menikah sebentar lagi dengan lelaki lain??? "

Inah mengangkat wajahnya memperhatikan lelaki yang lebih tinggi di hadapannya. Sepintas lalu memang aroma maskulin tercium dari tubuhnya yang ganteng. Rambut ikal yang bergelombang rapi dengan jeans belel dan baju kaos ketat menampilkan sobekan sixpack terpatri jelas di dadanya yang bidang. Tapi Inah memang tidak merasa ada hati dengan Yanto. Malah Yanto lah yang selalu menggoda dan ingin menjadikannya pacar. 

"Jawab Inah!, apa benar kamu akan dinikahkan dengan lelaki lain??"

Inah menarik napas. Sesaat kemudian dia kembali menunduk. Hanya anggukan kecil untuk menjawab pertanyaan Yanto yang semakin mendesak dirinya untuk berkata jujur. 

"Aku tak rela kalau kamu sampai dinikahi lelaki lain. Kamu dengar itu Inah. Kamu harus jadi milikku, apapun yang terjadi."

"Maaf mas Yanto. Ayah telah menentukan jodoh Inah. Inah harus nurut kata ayah."

"Tidak bisa..!!!, Mas Yanto malam ini akan melamar kamu. Katakan pada ayahmu… atau… sesuatu yang buruk akan terjadi nanti malam..!!! Camkan itu..!!! 

Tanpa permisi dan masih dengan arogannya, Yanto beringsut pergi sambil menyenggol bahu Inah saat berpapasan. Jantung Inah berdebar kencang mendengar ancaman Yanto. Cepat-cepat kakinya melangkah berlari kecil ingin segera sampai ke rumah. Ditutupnya pintu dan berlari ke kamar. Inah tahu persis bahwa Yanto orangnya nekad. Jika tak tercapai keinginannya, tak segan-segan Yanto mencelakai orang-orang yang tak sependapat dengan dirinya. 

"Ya, Allah… tolonglah hamba-Mu ini… ."

Inah berujar dan berdoa mohon perlindungan kepada Allah. Kegelisahan berlanjut. Apalagi ayahnya belum pulang dari mencari rezeki. Tangannya masih menggeletar saat menyapu lantai di area dapur. Pikirannya berkecamuk tentang ancaman Yanto. Segera diraihnya gelas dan mengisi wadah dengan air minum di teko. 

("Apa harus kuadukan pada ayah?"), ujarnya ragu. 

Malam menjelma. Pak Surianto alias Wak Kampret masih terlihat lelah dan kecapekan dari mengais rejeki. Ingin rasanya dia berlari menghambur ke pelukan pak Surianto menyatakan beban di hati atas ancaman Yanto. Sesaat Inah menahan langkahnya, lalu menyambut ayahnya dengan seulas senyum. 

"Ada apa, nak?"

Pak Surianto menangkap kegelisahan pada wajah anaknya. Kontak batin membuat dirinya mampu menangkap sinyal kecemasan dari gestur tubuh Inah walau dirinya disambut dengan senyuman. Dipegangnya kedua bahu anak semata wayang yang disayanginya. Kedua tatap mata beradu. Wak Kampret menelisik netra anaknya yang mulai berkaca. Gemerutuk dada menyalakan isak perlahan yang mulai tercipta. 

"Ada apa, Inah. Apa yang terjadi padamu??"

Tok.. Tok… tok… 

Ketukan pintu dari luar membuyarkan jawaban Inah yang ingin menjawab pertanyaan ayahnya. Pak Surianto menoleh ke arah pintu dan berjalan menuju ke sana. Inah memandang cemas karena teringat ancaman Yanto yang ingin datang melamarnya malam ini. Seketika dia melangkah menahan ayahnya untuk tidak membuka pintu. 

Tok… Tok… tok… 

Suara ketukan semakin kencang. Disertai ucapan salam dari seseorang yang amat dikenal Inah. Sayangnya pak Surianto telah membuka pintu dan melihat wajah tamunya yang datang. Inah mepet ke bahu pak Surianto dan perasaannya semakin kacau balau. Tampak tamu itu berusaha tersenyum manis dihadapan pak Surianto dan Inah. 

"Waalaikumsalam… , Eh… nak Yanto…"

"Iya Pak, ini saya."

"Oh, ya… silahkan duduk, nak. Inah… tolong buatin minum buat nak Yanto."

Inah yang ingin menolak, hanya menatap netra pak Surianto untuk tidak menyuruhnya pergi. Tapi pak Surianto tak memperhatikan hal itu. Dengan terpaksa Inah beringsut ke dapur untuk membuatkan teh. Inah menjerangkan air untuk membuatkan teh. Dari ruang dapur, Inah mendengar percakapan antara Yanto dan ayahnya berbasa-basi. 

"Begini pak Surianto. Saya sengaja datang malam ini untuk memastikan kabar yang saya dengar tentang Inah."

Pak Surianto mulai paham arah pembicaraan Yanto. Entah kenapa perasaannya semakin tak enak. Dia paham betul tentang Yanto yang memang sedari kecil nakal dan menyusahkan orang tuanya. Sudah 3x keluar masuk penjara dengan berbagai kasus. Mulai dari perjudian, sabung ayam dan terakhir kasus peredaran narkoba. Tapi dia berusaha tenang menghadapi makhluk yang ada di depannya sekarang ini. 

"Apa maksud nak Yanto?"

"Saya dengar, Inah akan menikah dengan seorang pemuda. Apakah itu benar?"

"Iya, terus apa hubungannya dengan nak Yanto dengan bakal menikahnya Inah?"

Inah masuk dan membawa bali berisikan 2 gelas teh untuk dihidangkan. Ekor mata Yanto mengitari wajah Inah yang lagi menghidangkan minuman. Adegan itu tak lepas dari pemandangan pak Surianto. Setelah selesai menghidangkan minuman, Inah pun bergegas menuju kamar yang dekat dengan ruang tamu. Telinganya ditempelkan ke pintu menguping pembicaraan antara ayahnya dengan Yanto. 

"Ya jelas saya keberatan pak jika Inah menikah dengan pemuda lain. Saya sudah lama naksir Inah dan ingin menikahinya. Saya mohon bapak membatalkan niat bapak sebelum semuanya terlambat."

Darah pak Surianto menggelegak mendengar perkataan Yanto. Sebagai orang tua, dia merasa anak ini terlalu lancang mengatur kehidupan mereka berdua. Wajahnya menegang. Rahangnya mengeras dan giginya rapat menahan amarah yang terpendam. Seketika dia berdiri dan menatap Yanto. 

"Apa maksud kamu, Yanto?"

Yanto tak kalah arogan. Dia menantang pak Surianto dengan berdiri pula. Tangannya berkacak pinggang. Sesaat kemudian telunjuknya mengarah ke wajah pak Surianto. Sesaat atmosfer di rumah sederhana itu memancarkan aura permusuhan. Tangan pak Surianto mulai terkepal. Sedangkan Yanto bersedekap meremehkan lelaki tua yang kelihatan kurus dan renta. 

"Pokoknya tak ada yang boleh memiliki Inah kecuali aku!!!!, Hai Pak tua, jangan melawanku kalau kau ingin selamat!!!"

"Bangsat kurang ajar… !!!!, ku hajar kau bangsat!!!"

Wak Kampret mulai melangkah mendekati Yanto dan ingin memberi pelajaran untuk lelaki yang tak sopan ini. Tangannya yang mengepal ingin melayangkan tinju ke wajah lelaki yang justru tersenyum mengejek sambil mengangkat kaki ingin menendang tubuh ringkih yang ingin meninjunya. Inah yang sedari menguping pembicaraan dengan tergesa-gesa berlari melerai keduanya. 

"Hentikan… ., Ayah.. Mas Yanto… ku mohon hentikan…."

Tangannya meraih Wak Kampret dan menarik kebelakang. Tak urung wak kampret ingin tetap maju. Sementara Yanto dengan pongah bersedekap memandang remeh lawannya. Gemuruh di dada wak kampret bagai berdentum-dentum melihat pongahnya Yanto merasa diatas angin. 

"Ku mohon ayah… hentikan."

Inah menenangkan ayahnya mendudukkan ke kursi yang mulai peyot. Lalu mendatangi Yanto yang masih berdiri menantang wak kampret. Inah sesenggukan menahan kesedihan. Lalu mendatangi Yanto yang tersenyum penuh kemenangan. Tangannya mengerucut membentuk runcingan memohon kepada Yanto. 

"Mohon mas Yanto… . Ku mohon pergilah dari sini…"

"Pergi kau dari rumahku, bangsat… . Tak sudi aku punya menantu macam kau..!!!, camkan itu!!!!"

"Hai kaleng rombengan!!!, kalau bukan karena calon istriku yang bermohon, sudah ku remukkan dadamu dan ku banting tubuhmu yang ringkih itu. Aku akan membuat perhitungan denganmu!!!"

Prakkkk… . 

Yanto menutup pintu dengan kasar, lalu dengan langkah gontai melangkah keluar. Tak jauh dari tempatnya melangkah, beberapa pemuda yang menjadi pengikutnya melongok memperhatikan bossnya yang masih memendam kemarahan. Suasana sepi karena jarak rumah yang satu dengan yang lainnya berjauhan, tidak mempengaruhi kejadian yang menimpa rumah sederhana itu. Tak ada tetangga yang tahu apa yang barusan terjadi. 

Inah buru-buru memberikan segelas air untuk meredakan kemarahan ayahnya. Napas wak kampret masih turun naik menahan gejolak amarah yang masih bersarang. Inah mengelus punggung ayahnya dengan lembut berharap amarah wak kampret mereda. Setelah reda amarahnya, dia menarik napas panjang. Inah mulai tenang melihat keadaan ayahnya. 


Malam Jahanam


Malam itu, kekesalan masih terlihat jelas di wajah wak kampret. Baru kali ini dia menghadapi kekurangajaran seorang pemuda yang tak punya adab sopan santun. Lama dia termenung memahami apa yang barusan terjadi. Keduanya berdiam diri dengan pikiran masing-masing. Lelah berpikir, keduanya masuk ke peraduan masing-masing dan berusaha melupakan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. 

Tapi tidak dengan Yanto. Teman begundalnya mulai membisiki rencana jahat. Setelah melihat sang boss keluar dengan wajah marah dan tangan masih mengepal. Dono, kawan karib Yanto beserta gengnya, menuju arah pakter tuak untuk menghilangkan ketegangan sang boss kampung itu. 

"Sudahlah boss, ngapain sih dikejar-kejar si Inah itu. Lagian Sari dan Lesti lebih montok dan bohay dibandingkan Inah."

Syarif, anggota gengnya mulai berbicara setelah melihat Yanto tenang sambil menenggak bir hitam. Yanto memandang anak buahnya yang mata mereka tertuju menanti jawaban Yanto. Semua saling pandang karena Yanto masih diam tak memberi jawaban atas pertanyaan Syarif. Deni menyenggol kaki Syarif yang berada disampingnya, takut Yanto mengamuk dan marah kembali karena Yanto terkenal orang yang bertemperamen tinggi. 

"Justru aku tertantang memilikinya karena dia sulit ku taklukkan nggak seperti Sari da. lesti. Dia spesial dan ingin kujadikan istri."

"Tapi boss, Inahkan mau dinikahkan dengan lelaki lain. Apa nggak sebaiknya biarin aja, kan masih banyak gadis lain selain Inah yang bisa dijadikan istri?? ", ujar Dewa. 

" Pokoknya malam ini dia harus kumiliki. Tak boleh lelaki lain menyentuhnya selain diriku."

"Terus, boss mau ngapain?"

"Aku akan menculiknya malam ini. Kalian harus membantuku untuk memilikinya."

Malam semakin pekat merangkak pagi. Sudah berapa botol bir dan minuman lainnya telah mengisi tenggorokan mereka. Pembicaraan mereka semakin ngawur. Kesadaran mulai menghilang dalam pikiran para pemuda berandalan itu. Hingga mereka sepakat mau membakar rumah wak kampret dan menculik Inah. Dengan sigap mereka menyiapkan segala sesuatu. Mulai dari bensin yang diisi dalam wadah jerigen sampai memakai sebo untuk menutupi wajah mereka biar tidak dikenali. 

Tepat jam 2 dini hari, sekelebat terlihat tiga pemuda bersebo menenteng jerigen 5 liter mengitari rumah wak kampret. Wak kampret dan Inah lagi tertidur pulas setelah insiden yang menegangkan beberapa jam yang lalu. Cairan yang beraroma bahan bakar mulai membasahi dinding tepat. Tak lupa atap rumah dari rumbia ikut disiram untuk mempercepat api menjalar rumah reot yang sederhana itu. 

Seulas seringai jahat di balik sebo itu mulai menyalakan mancis. Api dengan cepat membakar rumah yang sudah lapuk itu. Sementara tetangga yang berjauhan jarak rumahnya itu masih dibuai mimpi indah ditambah dinginnya malam membuat mereka masih betah memeluk guling dan menaikkan sarung menghalang hawa yang masuk ke rumah mereka. 

Inah yang di dalam tidurnya membau asap yang mulai pekat menyelusup penciuman dan pandangannya. Sesaat kesadaran mereka berdua mulai terjaga. Keduanya sontak melompat dari tempat tidur karena api mulai membakar apa saja yang membuatnya mudah terbakar. Kepanikan seketika terjadi. Para berandalan tersenyum puas dengan perbuatan mereka. 

"Inah… . Inah… . Kebakaran…"

"Ayah… ayah.. Ayah dimana???"

Keduanya berhasil keluar dari kepungan api yang mulai menggila. Gerombolan pemuda berandalan yang berjumlah 5 orang itu dengan sigap pula merangkul wak kampret dan menghadiahkan bogem mentah ke wajah dan sekujur tubuh lelaki tua renta itu. Sementara itu dua orang lagi yaitu Herman dan Yanto menahan Inah yang ketakutan dan panik. Yanto memukul tengkuk Inah sehingga pingsan seketika. Sedangkan wak kampret mereka seret di semak-semak setelah tak sadarkan diri akibat pukulan dan bogeman. 

Keadaannya sangat menyedihkan. Tampak darah meleleh dari hidung dan wajahnya. Kepalanya juga dipukul dengan keras oleh Syarif hingga jatuh pingsan. Kemudian mereka menyusul Herman dan Yanto yang memanggul Inah ke pinggiran sungai. Beberapa menit kemudian, kampung itu gempar karena warga mulai berdatangan melakukan pertolongan. Mereka bergantian menyiramkan air untuk menghentikan kebakaran. 

Tetapi usaha mereka sia-sia. Rumah wak kampret habis tak bersisa. Mereka melihat apakah ada jenazah yang ditemukan, tetapi mereka tidak menemukan mayat yang terbakar. Beberapa tetangga berinisiatif menyinari sekitar rumah dengan senter untuk memastikan keberadaan penghuninya. Hingga di balik semak sebalik pohon pisang terlihat wak kampret yang pingsan dan tubuh babak belur. 

Wak kampret dilarikan kerumah sakit oleh tetangga yang berbaik hati membawanya dengan pick up. Sebagian mencari keberadaan Inah yang belum mereka temukan. Suasana makin riuh menjelang pagi dini hari dengan memanggil Inah secara bergantian. Hal itu sampai terdengar di pinggiran sungai tempat Yanto dan gengnya menculik Inah. 

Saat dipanggul oleh Yanto, Inah hanya berkain sarung dan hanya memakai daleman tanpa kutang. Gesekan panggulan tubuh Inah membuat kelakian Yanto bergetar hebat. Seketika bisikan setan merayap di pikirannya. Tubuh Inah yang mulus dan menggoda membuat Yanto menelentangkan Inah di sebuah batu bundar. Herman menelan ludah melihat pemandangan aduhai. 

Pandangan Yanto yang menyorotkan perintah untuk menjauh tak urung membuat Herman beringsut pergi menjauh. Dia tahu apa yang akan dilakukan Yanto. Perlahan Yanto melucuti pakaian Inah. Malam yang dingin malah membakar nafsu dirinya yang ingin penyaluran hasrat birahi. Hingga akhirnya hal yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri yang sah terjadi pada Inah dan Yanto. 

Tak berapa lama kemudian, sesuatu yang menusuk di daerah intimnya membuat kesadaran Inah pulih. Ada rasa sakit yang menyentak disertai rasa berat dihimpit oleh seseorang. Katanya terbuka dan terpana ketika menyadari apa yang terjadi. Seketika kedua tanganya mendorong wajah lelaki bersebo itu. Tapi apalah daya, dalam kelelahan dan ketidakberdayaan, tangan tangan yang kasar lagi tegap itu melayangkan tamparan yang kuat sehingga Inah seketika dijemput yang Maha Kuasa. 

Yanto yang merasakan keganjilan dengan Inah, mulai menepuk wajah Inah berulang-ulang. Seketika kepanikan melanda jiwanya. Hasrat purbawi seketika redup seiring tak ada respon dari tubuh Inah. Dia turun dari tubuh Inah dan buru-buru mengancingkan resleting celana yang sempat diturunkan separuh. 

"Inah… Inah… "

Seakan tak percaya, Yanto memeriksa denyut nadi Inah yang tak berdetak lagi. Didekatkanya telinga di dada Inah. Terasa tubuh itu mulai terasa dingin di kaki bahkan perlahan di seluruh tubuh yang mulai kaku. Herman yang mengintip di kejauhan beserta yang lain, melihat janggal dengan tingkah Yanto. Serempak mereka mendekat memastikan apa yang terjadi. 

"Ada apa, boss??"

Mereka saling pandang. Herman memberanikan diri menyentuh tubuh Inah yang terasa kaku dan dingin. Tak urung dia melompat surut ke belakang setelah memastikan bahwa Inah sudah tak bernyawa lagi. Yang lain karena keterangan ikut melakukan hal yang sama seperti dilakukan Herman tadi. Mereka panik dan terkejut. Mereka semua saling pandang. 

"Inah sudah mati, boss. Bagaimana ini..!!!!"

Semua terdiam kebingungan. Terdengar suara-suara memanggil Inah mulai terdengar. Apalagi kilatan senter dan obor mulai kelihatan di kejauhan. Mereka semua panik karena tidak sesuai dengan rencana awal mereka. Semua tiarap menghindari kilatan senter yang mengitari di dekat mereka. Entah darimana pikiran mereka langsung mengusung mayat Inah dan menenggelamkan Inah di sungai. Arus sungai yang kebetulan deras membuat tubuh mayat Inah langsung terbawa arus. 

Tanpa dikomando semua bubar menyelamatkan diri menghindari kecurigaan warga. Semua berpencar dengan arah berbeda. Sementara itu warga mulai mendekati sungai untuk memastikan keberadaan Inah yang belum mereka temukan. Setelah lelah mencari, mereka bubar karena tak menemukan apa yang mereka cari. Ufuk timur dengan serabutan merah merona menandakan pagi menjelma. 

Berita kebakaran rumah wak kampret dan ditemukannya wak kampret dalam keadaan babak belur menjadi pertanyaan besar warga. Apalagi keberadaan Inah sampai pagi itu tidak ditemukan. Atas laporan warga, kepolisian sektor setempat mulai menelusuri dan mengidentifikasi tempat perkara kejadian. Proses penyidikan dilakukan dan mensterilkan lokasi membatasi police line untuk mempermudah tugas polisi. 

Beberapa warga ditanya tentang apa yang mereka lihat sebagai saksi mata. Semakin siang, area tempat kejadian perkara semakin padat dikunjungi warga yang ingin sekedar melihat. Di rumah sakit kelurahan tempat wak kampret dirawat, pihak medis merawat luka lecet dan beberapa luka bekas pukulan benda tumpul. Wak kampret sudah sadar tapi seperti bingung tentang apa yang terjadi. 


Menjadi ODGJ

Hasil diagnosis dokter, wak kampret mengalami hilang ingatan.  Bahkan tak mengenali beberapa tetangga yang telah menunggunya dari dini hari. Wak kampret heran dengan keberadaanya di rumah sakit. Dia memang merasa sakit, tapi tak ingat apa yang terjadi, bahkan dia tak ingat siapa dirinya. Tim medis menyuntikkan bius karena wak kampret mulai bertingkah aneh. 

Hasil medis menyimpulkan bahwa wak kampret mengalami psikotraumatic akut sehingga bisa dikatakan 'gila' permanen atau yang istilah sekarang OGDJ (orang dengan gangguan jiwa). Wak kampret tidak mempunyai saudara yang diketahui tetangganya. Bahkan sepanjang mereka ketahui bahwa wak kampret itu awalnya pendatang di kota mereka. Akhirnya dinas sosial dan dinas kesehatan turun tangan menangani wak kampret. Dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa untuk diobservasi gejalanya separah apa. 

2 hari kemudian tersiar kabar penemuan mayat wanita di pinggiran sungai yang jauh dari tempat kejadian. Tim forensik memastikan terjadi kekerasan seksual dan patahnya batang leher korban akibat kekerasan. Selain itu terjadi penyumbatan oksigen di tenggorokan mayat sehingga menyebabkan kematian. Polisi berhasil mengidentifikasi bahwa mayat itu adalah Suhainah alias Inah yang keberadaannya menghilang saat terjadi kebakaran. 

Warga tetangga kelurahan Mangga bersimpati dengan kematian Inah yang tragis. Spekulasi berkembang. Apalagi kabar ini telah sampai ke telinga Sardi, teman wak kampret yang bakal menjadi besannya. Sardi dan anaknya datang melihat mayat Inah dan bersedia menanggung semua biaya pemakamannya di tempat pemakaman umum. 

Pak Sardi juga turut membiayai pengobatan wak kampret di rumah sakit jiwa. Wak kampret benar-benar tidak mengenali Pak Sardi, teman akrabnya dulu. Pak Sardi juga harus berurusan dengan polisi karena hanya dia yang tahu kehidupan wak kampret di masa lalu. Sayangnya Pak Sardi hanya mengetahui bahwa wak kampret yang dikenalnya hidup sebatang kara. Konon wak kampret dari kecil sudah ditinggal orang tuanya dan hidup berkelana hingga suatu ketika berteman akrab dengan Pak Sardi. 

Suatu hari, setelah 2 minggu dalam perawatan rumah sakit jiwa, wak kampret melarikan diri dari pengawasan petugas yang lengah. Sejak itu lah hidup wak kampret berpindah-pindah. Karena lelah mencari keberadaan wak kampret, Pak Sardi akhirnya pasrah meninggalkan wak kampret. Sejak itulah wak kampret hidup dengan kondisi memprihatinkan. 


Masa kini

Seketika petir kembali bergelegar memecah angkasa. Suara yang keras dan menakutkan membuatku seketika berteriak ketakutan. Aku ingat kepingan peristiwa di malam jahanam itu yang memisahkan aku dengan anakku. Aku menjerit melengking memanggil anakku. Orang-orang ketakutan dengan apa yang aku lakukan. 

"Inah… . . Inah… .. Kamu dimana nak… .!!!!, huhuhuhuhu… huhuhuhu…"

Keadaan dimalam yang semakin larut itu membuat suasana semakin mencekam. Orang-orang bubar takut menjadi sasaran kemarahan yang seketika memuncak. Entah dorongan apa yang membuat aku berdiri dan meneriakkan nama anakku. Kulihat sekelebat bayangan Inah memanggil namaku di kelebatan malam yang redup dan derasnya hujan yang menggila. 

Aku berlari mengejar Inah yang kelihatan tersenyum seraya melambai mengajakku kehadapannya. Aku terobos hujan yang masih deras. Pakaianku kuyup dan badanku mengerut menahan dingin. Apalagi baru sepotong roti yang dijumpai di keranjang sampah tadi lah yang mengganjal perutku. 


"Inah… . Inah… . Ayah datang, nak… . "

Cuaca tak bersahabat. Angin semakin kencang dan orang-orang yang berteduh memaksakan diri pulang menuju tujuan masing-masing. Aku terus berlari hingga tak tentu arah. Sekelebat sinar lampu mobil membuat mataku silau. Mobil yang kencang karena malam semakin larut. 

Aku yang berlari dalam dunia imajinasi keabnormalan ku, menyatu dalam insiden terparah di malam ini. Tubuhku mencelat jauh akibat benturan dari mobil yang berlari kencang. Lamat-lamat ku dengar bisikan mesra kerinduan dari Inah. Dia memangku kepalaku di lengannya yang kurus. Tanganya membelai rambut dan wajahku. 

"Ayah pulang, nak. Akhirnya kita bersama lagi. "

Sesaat pengendara mobil mewah itu berhenti. Dia merasa menabrak sesuatu di tengah lebatnya hujan. Wiper mobil memperjelas apa yang terjadi di hadapannya. Sesaat melihat kanan kiri memperhatikan keadaan sekelilingnya. Kemudian langsung menghindar mundur lalu tancap gas memecah keheningan malam seiring hujan mulai mereda.